Skorly
Berita & analisis sepak bola Piala Dunia 2026

Analisis Grup G Piala Dunia 2026: Belgia Jadi Raja, Tapi Mesir Bisa Bikin Kejutan Besar

Grup G Piala Dunia 2026 memang nggak main-main: empat benua beradu strategi—Eropa, Afrika, Asia, dan Oseania—dalam satu kandang. Belgia yang dulu pernah jadi nomor satu dunia, Mesir sang penantang berdarah-darah, Iran si tembok baja dengan serangan kilat, dan Selandia Baru yang datang bukan untuk jadi penonton, tapi untuk membuktikan bahwa kejutan sepak bola tak pernah mati. Simak ulasannya.

Juara Grup yang Nyaris Pasti: Belgia

Belgia tetap jadi top dog di grup ini—meski generasi emasnya sudah mulai pensiun atau pindah ke kursi pelatih. Hazard? Sudah lama pensiun. Kompany? Kini lebih sering mengatur dari pinggir lapangan ketimbang di tengah. Tapi jangan salah: skuad mereka masih dipenuhi bintang-bintang berkualitas tinggi.

Kevin De Bruyne, meski usianya akan menginjak 34 tahun saat turnamen berlangsung, tetap jadi conductor andalan—pengatur tempo, pencipta ruang, dan penembak jarak jauh yang bikin kiper was-was. Romelu Lukaku, jika kondisinya prima, masih punya insting predator yang tajam: satu sentuhan bisa jadi gol, satu kesalahan lawan bisa jadi bencana.

Kelemahannya? Lini belakang yang kadang goyah dan kurangnya regenerasi pemain muda yang benar-benar siap nyemplung di level tertinggi. Tapi dengan pengalaman internasional yang menumpuk dan kualitas individu yang unggul, Belgia seharusnya bisa melewati fase grup tanpa drama berlebihan. Satu-satunya ujian berat: laga kontra Mesir. Kalau mereka bisa melewati itu, tiket ke babak 16 besar sudah di tangan.

Kuda Hitam yang Bisa Bikin Geleng-Geleng Kepala: Mesir

Mesir bukan sekadar underdog—mereka adalah tim yang punya senjata pamungkas: Mohamed Salah. Di usia 34 tahun, The Egyptian King masih punya kecepatan, dribel mematikan, dan naluri mencetak gol yang tak banyak dimiliki pemain sebayanya. Satu momen krusial, satu kesalahan bek, dan boom—gol tercipta.

Tapi Mesir bukan hanya Salah. Mereka punya kiper andal Mohamed El Shenawy yang kerap jadi penyelamat di laga besar, bek tangguh Mahmoud “El Wensh” Hamdy yang kokoh seperti benteng, serta gelandang kreatif Mohamed Elneny—yang pengalamannya di Arsenal jelas bukan isapan jempol.

Kekurangannya? Kedalaman skuad yang tipis. Kalau Salah cedera atau dikawal ketat sejak menit pertama, Mesir bisa kehilangan spark-nya. Tapi di turnamen single-elimination seperti ini, satu kemenangan besar bisa mengubah segalanya. Kalau mereka menang atas Iran dan Selandia Baru—plus hasil imbang melawan Belgia—posisi kedua bukan lagi mimpi.

Tim yang Tak Boleh Diremehkan: Iran

Iran bukan tim yang suka nge-gas sembarangan—mereka lebih suka main sabar, rapat, lalu counter dengan kecepatan kilat. Di bawah arahan pelatih berpengalaman, mereka dikenal disiplin, fisik kuat, dan punya mental baja di laga besar.

Sardar Azmoun dan Mehdi Taremi tetap jadi dua ancaman utama di lini depan. Taremi, yang bermain di Porto, bukan cuma pencetak gol—dia juga pembuat peluang, pengadang umpan, dan pemain yang bisa drop deep untuk memecah kebuntuan. Di lini tengah, Saeid Ezatolahi memberi stabilitas dan pengalaman Eropa yang tak bisa diabaikan.

Masalahnya? Iran kadang terlalu defensive-minded. Saat menghadapi tim yang juga rapat—seperti Belgia atau Mesir—mereka bisa kesulitan mencari celah. Tapi kalau berhasil mencuri poin dari Mesir atau bahkan Belgia, maka harapan lolos langsung melesat. Dan laga kontra Selandia Baru? Wajib menang—kalau tidak, mimpi 16 besar bisa sirna.

Tim yang Datang dengan Semangat, Bukan Harapan: Selandia Baru

Selandia Baru memang jadi tim paling underdog di grup ini. Sepak bola Oseania memang belum bisa bersaing secara konsisten dengan benua lain—terutama setelah Australia hijrah ke AFC. Tapi jangan anggap remeh semangat mereka.

Chris Wood (Nottingham Forest) tetap jadi andalan utama—striker klasik yang kuat di udara, punya insting mencetak gol, dan sering jadi penentu di laga-laga ketat. Tapi secara keseluruhan, kualitas individu skuad Selandia Baru masih jauh di bawah tiga lawannya.

Kelemahan utama mereka? Minimnya pengalaman di level Piala Dunia dan sedikitnya pemain yang berkompetisi di liga top Eropa. Mereka kemungkinan besar akan bermain park-the-bus, andalkan serangan balik, dan manfaatkan bola mati—terutama tendangan bebas dan sepak pojok—untuk memanfaatkan postur tinggi para pemainnya.

Lolos? Hampir mustahil. Tapi kalau mereka bisa meraih satu hasil imbang—misalnya kontra Iran atau Mesir—itu sudah jadi prestasi besar. Bahkan, satu gol pun bisa jadi sejarah.

Pemain yang Wajib Diamati

  1. Kevin De Bruyne (Belgia) – Playmaker kelas dunia yang masih punya visi tajam, umpan