Ronaldo Mengucapkan Selamat Tinggal: Piala Dunia 2026 Akan Jadi yang Terakhir – 'Ini Semua Tentang Hasrat'

Cristiano Ronaldo secara resmi mengonfirmasi bahwa Piala Dunia FIFA 2026, yang akan diselenggarakan oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, akan menjadi penutup karier internasionalnya. Kapten Portugal berusia 41 tahun itu mengungkapkan hal ini dalam konferensi pers terbuka menjelang pertandingan Portugal melawan Spanyol di Dallas, menekankan apa yang selalu menjadi motivasinya: hasrat murni terhadap sepak bola.
“Ini soal hasrat,” kata Ronaldo, merenungkan karier yang kini telah membawanya ke enam turnamen Piala Dunia — 2006, 2010, 2014, 2018, 2022, dan kini 2026. “Itulah yang membuat saya terus maju.”
Kampanye terakhirnya tak bisa disebut biasa. Pada 23 Juni, saat menghadapi Uzbekistan, Ronaldo mencetak dua gol dalam babak grup — menjadi pemain pertama yang mencetak gol di enam Piala Dunia berbeda dan juga pria tertua yang mencetak brace dalam sejarah turnamen. Performa itu juga menambah koleksi golnya menjadi 10 gol di Piala Dunia, menjadikannya pencetak gol terbanyak sepanjang masa untuk Portugal di ajang final.
Ia menambah dramatisasi pada babak 16 besar melawan Kroasia pada 2 Juli, dengan berhasil mengeksekusi tendangan penalti — gol pertamanya dalam pertandingan knockout Piala Dunia. Ia menyelesaikan turnamen dengan total tiga gol, jumlah yang tergolong rendah menurut standar prestasinya, namun memiliki bobot besar mengingat usianya dan panjangnya karier.
Menjelang pertandingan melawan Spanyol, Ronaldo mengakui ia sempat berharap pertandingan ini bukan yang terakhir. “Saya ingin terus bermain,” katanya sambil tersenyum. Namun nasib punya rencana lain. Gol tambahan waktu dari Mikel Merino mengantarkan Spanyol lolos, mengakhiri perjalanan Portugal — dan ternyata, juga perjalanan Piala Dunia Ronaldo.
Pemain depan veteran itu memainkan peran penting dalam kampanye kualifikasi Piala Dunia 2026, mencetak lima gol selama fase kualifikasi. Lahir 5 Februari 1985, Ronaldo kini telah tampil di Piala Dunia selama dua dekade, meninggalkan jejak yang tak terhapus di panggung global.
Seiring mundurnya dari turnamen tersebut, Ronaldo pergi bukan hanya sebagai pemecah rekor, tetapi juga sebagai salah satu tokoh paling ikonik dalam sejarah sepak bola. Warisannya terukir dalam tonggak-tonggak yang mungkin tak pernah terlampaui — dan pesan terakhirnya kepada dunia tetap sederhana: ia bermain bukan demi kemuliaan, bukan demi angka, tapi karena ia benar-benar mencintai permainan ini.