Argentina vs Inggris: Rivalitas yang Dibentuk dalam Api, Kontroversi, dan Legenda

Pentas Piala Dunia telah lama menjadi medan pertarungan bagi salah satu rivalitas sepak bola paling membara — Argentina melawan Inggris — dan semifinal tahun 2026 di Atlanta menjadi babak seismik lainnya dalam sebuah kisah yang ditandai oleh semangat, politik, serta momen-momen yang terus menggema hingga masa kini.
Untuk pertama kalinya dalam karier gemilangnya, Lionel Messi berhadapan dengan tim Inggris yang dikelola Thomas Tuchel. Acara ini bukan sekadar pertandingan knockout bertekanan tinggi; melainkan sebuah perhitungan dengan sejarah, tabrakan antara warisan yang dipenuhi amarah, kehebatan, dan ketenaran tak terlupakan.
Semuanya dimulai pada tahun 1966, di Stadion Wembley, ketika Inggris menang 1-0 atas Argentina dalam pertandingan perempat final yang kemudian menjadi terkenal bukan hanya karena gol tersebut — tendangan Geoff Hurst — tetapi juga karena apa yang terjadi setelahnya. Kapten timnas Argentina, Antonio Rattín, dikartu merah oleh wasit Jerman Rudolf Kreitlein setelah pertengkaran panas, namun menolak meninggalkan lapangan, memaksa penundaan hampir delapan menit. Insiden itu memicu kemarahan dari kedua belah pihak. Pelatih Inggris Alf Ramsey kemudian menyebut para Argentina sebagai "binatang" dan melarang pemainnya menukar jersey setelah pertandingan. Pertandingan ini secara luas dikreditkan telah mendorong FIFA untuk memperkenalkan kartu kuning dan merah menjelang Piala Dunia 1970 — respons langsung terhadap kekacauan pada hari itu.
Kemudian datang tanggal 22 Juni 1986 — sebuah tanggal yang melekat dalam legenda sepak bola. Di Stadion Azteca, Mexico City, Diego Maradona memberikan salah satu tindakan pemberontakan paling abadi dalam olahraga: gol "Tangan Tuhan". Dengan tangan ilegalnya yang memantulkan bola melewati Peter Shilton, Maradona mencetak gol yang masih disebut banyak orang sebagai gol paling kontroversial dalam sejarah Piala Dunia. Wasit Ali Bin Nasser, yang tidak melihat pelanggaran tersebut, mengizinkan gol itu tetap berlaku. Argentina menang 2-1 dan akhirnya membawa pulang trofi. Pertandingan ini berlangsung hanya empat tahun setelah Perang Falklands, menambah lapisan ketegangan geopolitik yang masih membekas dalam ingatan para pendukung dari kedua sisi.
Empat tahun kemudian, pada tahun 1998, rivalitas itu kembali memanas. David Beckham dikartu merah dalam babak 16 besar setelah tackle kasar, membuat Inggris kekurangan pemain saat Argentina melaju ke babak selanjutnya lewat adu penalti. Itu adalah momen penderitaan pribadi — namun juga pengampunan. Tiga tahun kemudian, pada fase grup Piala Dunia 2002, Beckham berhasil mengeksekusi penalti dalam kemenangan 1-0 Inggris atas Argentina, sebuah bentuk keadilan kecil atas penghinaan di Paris.
Kini, di Atlanta, naskah ditulis ulang sekali lagi. Messi berdiri tegak di bawah tekanan warisan yang lebih tua daripada usianya. Suasana bergetar penuh antisipasi, sejarah menggantung berat di udara yang lembap. Ini bukan sekadar pertandingan — ini adalah perhitungan. Pertarungan antar generasi, ideologi, dan bayangan pertemuan-pertemuan masa lalu.
Dan pada akhirnya, hanya waktu yang akan menentukan apakah babak terbaru ini akan diingat sebagai kemenangan atau tragedi. Namun satu hal pasti: api antara dua negara ini tetap menyala sekuat dulu.