Skorly
Berita & analisis sepak bola Piala Dunia 2026

Infantino Menyerah pada Rencana Privatisasi Keuntungan Piala Dunia Setelah Kepanasan Global

Gianni Infantino telah secara diam-diam menarik rencana kontroversialnya untuk menjual saham dari keuntungan Piala Dunia masa depan kepada investor modal ventura, mengalah karena gelombang penentangan keras yang berpotensi merusak persatuan sepak bola dunia.

Dalam pernyataan yang dirilis terlambat Selasa malam, presiden FIFA itu mengakui adanya perpecahan mendalam yang ditimbulkan oleh inisiatif yang dijuluki FIFA Forward Enterprise (FFE), dengan mengakui: “Perpecahan yang ditimbulkan proyek ini kini tidak lagi sejalan dengan tujuan yang ingin kami capai.” Dengan demikian, pintu bagi upaya monetisasi pendapatan Piala Dunia melalui modal swasta kini tertutup rapat.

Rancangan FFE tersebut akan menggabungkan hak komersial FIFA—termasuk kesepakatan siaran, paket sponsor, tiket, dan lisensi—dengan pelaksanaan turnamen, menawarkan investor swasta bagian dari kue sepak bola yang sangat menguntungkan. Investor utama dilaporkan adalah Joshua Kushner, yang perusahaannya diposisikan sebagai fondasi dari kesepakatan tersebut.

Namun, protes datang dengan cepat dan keras. Beberapa negara Eropa mengeluarkan peringatan tegas bahwa mereka akan mundur dari acara Piala Dunia jika rencana ini dilanjutkan. UEFA, badan pengelola sepak bola benua tersebut, bersikap lebih tegas, secara terbuka menyatakan kehilangan kepercayaan terhadap Infantino dan menyebut usulan itu sebagai pengkhianatan terhadap nilai inti sepak bola.

CONCACAF dan AFC juga bergabung dalam suara penolakan, dengan pejabat-pejabat menyebut langkah ini sebagai preseden berbahaya yang dapat membahayakan integritas dan independensi sepak bola internasional. Skala perlawanan yang besar memaksa Infantino mundur, mencatat kegagalan besar bagi seorang pemimpin yang selama ini menjadi pengusung reformasi keuangan berani.

Kepala Operasional FIFA, Kevin Lamour, turut menambah panas situasi dengan mengungkapkan bahwa staf internal tidak diberi tahu tentang cakupan sebenarnya dari rencana tersebut. “Kami dibohongi,” kata Lamour secara gamblang. “Ini bukan kepemimpinan yang transparan—ini adalah taruhan tanpa peta jalan yang jelas.”

Lebih mengejutkan lagi, penasihat senior Infantino mengundurkan diri dari proyek tersebut, menyebutnya “kesepakatan buruk bagi sepak bola” dan memperingatkan bahwa hal ini akan merusak kepercayaan di seluruh ekosistem permainan.

Akibatnya, hubungan tegang muncul antara kepemimpinan FIFA dengan beberapa konfederasi paling berpengaruh. Pernyataan resmi UEFA tentang ketidakpercayaan merupakan sinyal terkuat hingga kini bahwa krisis tata kelola bukan hanya soal uang—tapi juga soal akuntabilitas, transparansi, dan rasa hormat terhadap tradisi olahraga.

Dengan Piala Dunia 2026 yang akan diselenggarakan oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, turnamen tersebut kini akan berlangsung berdasarkan model keuangan FIFA yang ada. Penjualan hak komersial tetap tak tersentuh, dan impian modal ventura mengakses panggung terbesar sepak bola pun ditunda—setidaknya untuk saat ini.

Bagi Infantino, episode ini menjadi pengingat yang menyedihkan: bahkan visi paling ambisius bisa gagal jika mengabaikan suara-suara yang benar-benar penting dalam sepak bola dunia.

Bagikan:WhatsAppXFacebookTelegram

Sumber

Dapatkan Panduan Piala Dunia 2026 GRATIS

Masukkan email & WhatsApp untuk menerima PDF Panduan Bertahan Piala Dunia 2026 untuk fans Indonesia.

Komentar

Masuk untuk ikut diskusi. Masuk